Menjaga Tarsius di Cagar Alam Tangkoko, Beranda Hutan Bitung
Tarsius kecil bermata besar bertahan di Cagar Alam Tangkoko, kawasan hutan di kaki Gunung Dua Saudara, Bitung. Begini upaya menjaganya.

Fakta Kunci
- Cagar Alam Tangkoko berada di kaki pegunungan wilayah Bitung, Sulawesi Utara
- Tarsius adalah primata kecil aktif malam hari (nokturnal) dengan mata besar
- Kawasan Tangkoko juga habitat yaki (monyet hitam) dan burung rangkong
- Aktivitas melihat tarsius dilakukan bersama pemandu lokal saat senja
- Ancaman utama: perusakan habitat, perburuan, dan gangguan wisata tak terkendali
Senja di Tepi Hutan Tangkoko
Menjelang pukul lima sore, langkah rombongan kecil melambat di jalur setapak Cagar Alam Tangkoko. Pemandu berhenti di depan sebatang pohon beringin tua yang batangnya berongga. Ia menunjuk ke lubang gelap di antara akar. Beberapa menit kemudian, sepasang mata bulat besar muncul, memantulkan sisa cahaya senja. Itu tarsius, primata sebesar kepalan tangan yang baru bangun untuk berburu serangga.
Tangkoko adalah salah satu wajah hutan yang dekat dengan warga Bitung. Kawasan ini terletak di kaki pegunungan di wilayah Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara, yang secara geografis berada di kaki Gunung Dua Saudara. Bagi banyak warga sekitar, hutan ini bukan sekadar objek wisata, melainkan sumber air, penahan longsor, dan ruang hidup satwa yang tidak ditemukan sembarangan.
Mengenal Tarsius dan Tetangganya
Tarsius aktif pada malam hari. Mata besarnya membantu melihat dalam gelap, dan kepalanya bisa memutar hampir ke belakang untuk memantau mangsa maupun ancaman. Ukurannya kecil, gerakannya melompat dari dahan ke dahan. Hewan ini hidup dalam kelompok kecil dan sering kembali ke pohon sarang yang sama, itulah sebabnya pemandu lokal hafal titik-titik tempat mereka bersarang.
Tarsius tidak sendirian di Tangkoko. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi yaki, monyet berwarna hitam dengan jambul di kepala, serta beragam jenis burung termasuk rangkong. Keberadaan satwa-satwa ini membuat Tangkoko menjadi kawasan yang penting untuk dijaga, bukan hanya karena nilai wisata, tetapi karena peran ekologisnya. Bila hutan rusak, satwa kehilangan tempat mencari makan dan bersarang.
Melihat tarsius perlu kesabaran dan aturan. Cahaya lampu yang terlalu terang, suara ribut, dan jarak yang terlalu dekat membuat hewan ini stres. Pemandu yang baik akan mengingatkan pengunjung menjaga jarak, menahan suara, dan tidak menggunakan lampu kilat kamera.
Ancaman dan Upaya Menjaga
Ancaman terhadap tarsius dan habitatnya di Tangkoko datang dari beberapa arah. Pembukaan lahan dan penebangan pohon mengurangi ruang hidup satwa. Perburuan satwa liar masih menjadi persoalan di sebagian kawasan hutan Sulawesi Utara. Kunjungan wisata yang tidak terkendali, terutama saat musim ramai, juga bisa mengganggu perilaku alami hewan bila tidak diatur.
Upaya menjaga kawasan ini bertumpu pada kerja bersama. Pemandu lokal berperan besar karena mereka mengenal jalur, titik sarang, dan pola perilaku satwa. Banyak dari mereka berasal dari desa di sekitar kawasan, sehingga penghasilan dari wisata pengamatan satwa menjadi alasan nyata untuk menjaga hutan tetap utuh. Ketika hutan bernilai hidup-hidup, warga punya alasan ekonomi untuk tidak merusaknya.
Bagi pengunjung dari luar Bitung, cara terbaik ikut menjaga adalah mengikuti aturan kawasan: datang bersama pemandu resmi, tidak memberi makan satwa, tidak membuang sampah di jalur, dan tidak memaksa mendekat demi foto. Biaya jasa pemandu dan tiket masuk sebaiknya ditanyakan langsung di lokasi karena bisa berubah, namun secara umum masih relatif terjangkau dibanding nilai pengalaman melihat tarsius langsung di alam.
Video Pilihan
Pertanyaan yang Sering Muncul
Di mana lokasi Cagar Alam Tangkoko?
Kawasan ini berada di wilayah Kota Bitung, Sulawesi Utara, di kaki pegunungan dekat Gunung Dua Saudara. Aksesnya dari pusat Kota Bitung menuju desa di pinggir kawasan hutan.
Kapan waktu terbaik melihat tarsius?
Tarsius aktif pada malam hari, jadi waktu terbaik menjelang senja saat mereka mulai keluar dari pohon sarang untuk berburu serangga. Pengamatan dilakukan bersama pemandu.
Apakah boleh menggunakan lampu kilat saat memotret tarsius?
Sebaiknya tidak. Cahaya terang dan lampu kilat membuat tarsius stres. Ikuti arahan pemandu, jaga jarak, dan tahan suara agar perilaku alami satwa tidak terganggu.
Selain tarsius, satwa apa yang bisa dilihat di Tangkoko?
Kawasan ini juga habitat yaki (monyet hitam berjambul) dan berbagai burung, termasuk rangkong. Keragaman satwa inilah yang membuat Tangkoko penting untuk dijaga.