Tarsius dan Hutan Tangkoko: Menjaga Keanekaragaman Hayati di Kaki Dua Saudara
Hutan Tangkoko di kaki Gunung Dua Saudara, Bitung, jadi rumah tarsius dan ragam satwa endemik Sulawesi yang butuh dijaga bersama.
Fakta Kunci
- Kota Bitung berada di kaki Gunung Dua Saudara, Sulawesi Utara
- Hutan Tangkoko-Batuangus adalah kawasan konservasi di wilayah Bitung dan sekitarnya
- Tarsius (Tarsius spectrum) adalah primata mungil nokturnal endemik Sulawesi
- Kawasan ini juga jadi habitat monyet hitam Sulawesi (yaki/macaca nigra) dan rangkong
- Pulau Lembeh masuk wilayah Kota Bitung dan dikenal lewat wisata bawah lautnya
Malam di Kaki Dua Saudara
Saat lampu sorot menyapu batang pohon besar di tepi kawasan hutan Tangkoko, sepasang mata bulat memantul balik dari ketinggian beberapa meter. Bukan burung, bukan kucing hutan. Itu tarsius, primata mungil dengan bola mata yang nyaris sebesar kepalanya, salah satu satwa endemik Sulawesi yang bertahan di sisa-sisa hutan di kaki Gunung Dua Saudara.
Tangkoko bukan nama asing bagi warga Bitung. Kawasan hutan di timur laut Tanah Minahasa ini menjadi tetangga langsung kota pelabuhan yang sibuk. Dari pusat Kota Bitung, perjalanan darat menuju pintu masuk kawasan hanya butuh waktu relatif singkat. Tidak heran kalau banyak wisatawan menjadikan Bitung sebagai titik singgah sebelum masuk hutan, atau sebaliknya, beristirahat di kota setelah semalam begadang mendengar suara tarsius memanggil pasangan.
Mengapa Tarsius Penting bagi Bitung
Tarsius hidup nokturnal. Siang hari ia bersembunyi di lubang pohon atau rimbun dedaunan, malam baru keluar berburu serangga. Ukurannya mungil, tapi perannya besar: ia membantu mengontrol populasi serangga dan menjadi indikator kesehatan hutan. Kalau tarsius masih ada dan berkembang biak, artinya tutupan pohon di sekitarnya masih layak.
Selain tarsius, kawasan Tangkoko dan sekitarnya dikenal sebagai rumah bagi satwa lain khas Sulawesi. Ada yaki, monyet hitam Sulawesi dengan jambul khas di kepalanya. Ada juga rangkong dan berbagai jenis burung yang bergantung pada pohon-pohon besar. Kehadiran mereka menjadikan hutan di wilayah Bitung ini salah satu kantong keanekaragaman hayati yang penting di Sulawesi Utara.
Ancaman terhadap habitat tetap nyata. Pembukaan lahan, perburuan, dan gangguan manusia terhadap kawasan hutan menjadi tekanan yang terus ada. Karena itu, upaya menjaga bukan hanya soal melindungi tarsius, tetapi juga menjaga seluruh ekosistem yang menopangnya.
Menjaga Bersama, dari Kota sampai Hutan
Pemerintah Kota Bitung bersama berbagai pihak terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi yang melibatkan masyarakat. Warga sekitar hutan yang dulu berburu kini sebagian beralih menjadi pemandu wisata, penjaga jalur, atau penyedia jasa penginapan sederhana. Peralihan ini penting: konservasi yang tidak memberi manfaat ekonomi kepada warga cenderung rapuh.
Wisata minat khusus menjadi salah satu jalan tengah. Pengunjung datang untuk melihat tarsius dan satwa lain dengan aturan ketat: tidak memakai lampu sorot berlebihan, tidak menyentuh satwa, tidak membuat suara keras. Pendapatan dari kunjungan membantu membiayai patroli dan pemantauan kawasan.
Yang tak kalah penting adalah kesadaran warga Bitung sendiri. Hutan di kaki Dua Saudara bukan hanya aset wisata, tetapi paru-paru kota dan rumah bagi satwa yang tidak ada di tempat lain. Menjaga tarsius berarti menjaga Bitung tetap punya hutan yang hidup, sekaligus menjaga keanekaragaman hayati yang menjadi warisan bersama.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Di mana Hutan Tangkoko berada?
Kawasan hutan Tangkoko-Batuangus berada di wilayah Sulawesi Utara, berdekatan dengan Kota Bitung yang terletak di kaki Gunung Dua Saudara.
Apa itu tarsius?
Tarsius adalah primata mungil nokturnal endemik Sulawesi dengan mata besar. Salah satu jenis yang dikenal adalah Tarsius spectrum.
Satwa apa saja yang bisa ditemui di kawasan Tangkoko?
Selain tarsius, kawasan ini dikenal sebagai habitat yaki (monyet hitam Sulawesi) dan berbagai jenis burung termasuk rangkong.
Bagaimana cara berkunjung yang bertanggung jawab?
Gunakan pemandu lokal, hindari lampu sorot berlebihan, jangan menyentuh atau memberi makan satwa, dan jaga ketenangan agar satwa tidak terganggu.